Saya lahir dan besar di desa. Itulah sebabnya saya selalu bangga disebut anak desa.
Sebagian besar orang menganggap bahwa anak desa adalah kampungan, memang, karena anak desa pasti anak kampung. Lahir di kampung, besar dan bergaul di lingkungan kampung. Sebuah desa terbagi a
Mengapa harus malu, kalau itu adalah kenyataan? Bukankan kalau mau hidup di dunia nyata harus menerima kenyataan?
Janganlah demi dianggap lebih baik harus mengingkari kenyataan. Kepura-puraan hanya akan menjadikan kita hidup dalam kesemuan.
Itulah sebabnya saya selalu ikut berbangga kalau ada sesuatu rencana untuk memandirikan pembangunan desa.
Beruntung sekali sewaktu bertugas di Kabupaten Tanah Datar – Sumatera Barat, saya berkesempatan untuk turut belajar mengantar masyarakat menjadi perencana pembangunan bagi desanya. Masyarakat desa sekitar Danau Singkarak menyusun perencanaan pembangunan desanya dengan metode ZOPP yang dipandu oleh teman-teman dari GTz, Bappeda Provinsi Sumatera Barat, Bappeda Kabupaten Tanah Datar dan Badan Pemberdayaan Masyarakat Desa Kabupaten.
Demikian juga ketika wabah Flu Burung melanda sewindu yang lalu, rekan-rekan dari UNICEF Bandung banyak memberi kesempatan kepada kami untuk memberdayakan masyarakat agar dapat menangani permasalahan yang sangat pelik itu secara mandiri.
Lokakarya Pemberdayaan Masyarakat dalam Upaya Pencvegahan dan Penanganan Flu Burung dilaksanakan di 32 desa di wilayah Kabupaten Indramayu. Masyarakat dari berbagai unsur dengan latar belakang yang bervariasi difasilitasi selama 4 hari untuk menyusun perencanaan (Rencana Aksi Desa) dalam mencegah dan menangani penyakit flu burung.
Rencana Aksi Desa yang dibuat, dapat dilaksanakan dengan baik. Karena memang masyarakatlah yang membuat, melaksanakan dan tentu saja mengevaluasinya. Tentu saja sesuai dengan potensi yang ada di desa itu sendiri.
Ragu?
Masyarakat desa dengan keanekaragaman kelebihan dan kekurangannya sesunguhnya adalah potensi terpendam yang jika difasilitasi dengan baik dan benar akan menjadi kekuatan luar biasa.
Tidak percaya?
Rencana Aksi Desa yang saya sebutkan berulang-ulang di atas adalah buktinya. Banyak membuat orang geleng kepala, termasuk rekan-rekan dari UNICEF itu sendiri atas keluarbiasaan yang ditunjukkan masyarakat desa.
Tidak mengherankan kalau pada waktu itu, rencana lokakarya yang semula hanya sekedar mencoba di satu desa pada akhirnya dilaksanakan secara luas di seluruh kecamatan (satu desa/kecamatan, kecuali di Kecamatan Indramayu dilaksanakan di 2 desa).
Makanya, jangan malu diberi gelar anak desa.
O ya, saya banga jadi anak desa yang lahir di Kampung Sumbon II Desa Sumbon (dulu masih Desa Kedokangabus) Kecamatan Kroya (waktu saya kecil masih menyatu dengan Kecamatan Gabuswetan), Kabupaten Indramayu.
Apalagi mulai tahun depan, dana pembangunan desa luar biasa besarnya. Milyaran rupiah! Bangga boleh saja, tetapi sanggupkah kita melaksanakan amanat itu?
Insya Allah. Aamiin YRA.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar